Berita · Desa Penampi
Pertanian Tanpa Bakar dan Budidaya Kelulut di Penampi
Masyarakat Penampi mengembangkan pengelolaan lahan tanpa bakar dan budidaya madu kelulut sebagai bagian dari usaha berbasis sumber daya lokal.

Desa Penampi terletak di bagian utara Provinsi Riau tepatnya di Pulau Bengkalis. Posisi Desa Penampi berada di sebelah barat dari Ibukota Kecamatan dan Ibukota Kabupaten dengan rupa dataran rendah yang berketinggian antara 0-3 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang terletak di pesisir Pulau Bengkalis yang menghadap langsung dengan Selat Bengkalis. Letak posisi Desa Penampi secara astronomis terletak pada titik koordinat 102.1752658 Bujur Timur, 1.4467929 Lintang Utara. Secara administrasi Desa Penampi terletak di Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.
Berdasarkan hasil pemetaan partisipatif yang dilaksanakan oleh Badan Restorasi Gambut pada Tahun 2019 Luas wilayah Desa Penampi 1.057 hektar, yang terdiri dari 3 dusun yaitu Dusun Makmur, Dusun Mekar dan Dusun Penampi dengan batas disebelah utara dengan Desa Resam , sebelah timur dengan Desa Kelebuk, selatan dengan Selat Bengkalis dan sebelah barat dengan Desa Kuala Alam dan Desa Sungai Alam.
Wilayah Desa Penampi didominasi oleh ekosistem mangrove, gambut, perkebunan dan pemukiman. Desa Penampi secara legal administrasi masuk ke dalam tiga kawasan, yaitu Kawasan APL (Area Penggunaan Lain), Kawasan Hidrologi Gambut (KHG) dan Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT). Dalam Perda No 10 Tahun 2018 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Riau 2018 – 2038 Desa Penampi hampir secara keseluruhan masuk ke dalam status Kawasan APL, sedangkan untuk HPT secara legal administrasi menurut Nomor SK 903/MENLHK/SETJEN/PLA.02/12/2016 kawasan Desa Penampi terdapat daerah Hutan Produksi Terbatas berupa hutan mangrove di daerah pesisir. Untuk KHG dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK. 129/MENLHK/SETJEN/PKL.0/2/2017 Tentang Penetapan Peta Kesatuan Hidrologis Gambut Nasional, Desa Penampi masuk dalam KHG Pulau Bengkalis
Mata pencaharian masyarakat Desa Penampi di dominasi oleh sektor perkebunan karet, nenas dan pinang serta nelayan, kebakaran pada tahun 2014 mengakibatkan lahan gambut di Desa Penampi terdegradasi di tambah lagi batas antar desa yang dibangun kanal dapat menyebabkan subsidensi di lahan gambut dan rentan terhadap ancaman kebakaran lahan gambut, di tambah lagi mayoritas masyarakat petani di lahan gambut yang jika tidak di intervensi, besar kemungkinan melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar karena secara kultural penyiapan lahan dilakukan setiap tahun setelah petani memanen buah nenas.
Badan Restorasi Gambut pada tahun 2019 melaksanakan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas masyarakat di Desa Penampi dan mempromosikan pengelolaan lahan gambut tanpa bakar. Pak Rudi salah satu penggerak pertanian lahan tanpa bakar (PLTB) hasil binaan BRG sampai saat ini masih menyerukan untuk mengelola lahan tanpa bakar, karna mayoritas jenis tanah di Desa Penampi merupakan lahan gambut seluas 854 Hektar dengan kedalaman bisa mencapai 12 meter untuk bagian utara Desa Penampi.
Melihat semangat Petani di Desa Penampi yang masih aktif mengkampanyekan PLTB maka Yayasan Gambut melalui dukungan pendanaan dari Global Environment Centre (GEC) menyerukan kembali bersama 4 orang petani yang berkomitmen untuk mengembangkan pertanian lahan gambut tanpa bakar di pekarangan lahan gambut di sekitar rumah warga di Desa Penampi

Yayasan Gambut Berdiskusi Dengan Pemerintah Desa Penampi terkait Inisiatif Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar
Petani Desa Penampi akhirnya mengembangkan berbagai macam komoditas hortikultura tanpa bakar di lahan gambut di sekitar pekarangan rumah mereka, pengolahan lahan mereka lakukan dengan cara manual menggunakan cangkul dan membuat bedengan di lahan gambut, dalam pengolahan pertanian lahan agar produktif pH tanah menjadi perhatian utama bagi petani, sehingga sebelum melakukan penanaman mereka memberikan dolomit untuk menaikkan pH tanah di lahan gambut kemudian rutin melakukan pemupukan sesuai kebutuhan masing-masing tanaman serta mensuplai kebutuhan harian air bagi tanaman.

Pertanian Lahan Tanpa Bakar Desa Penampi
Pertanian tanpa bakar di Desa Penampi merupakan bagian dari upaya untuk mencegah terjadi nya kebakaran di wilayah mereka serta merupakan bagian dari kampanye untuk tetap menjaga lahan gambut produktif bernilai eknomis serta tidak merugikan lingkungan sekitar, kemudian petani juga terlibat dalam pengelolaan informasi Sistem Peringatan Bahaya Kebakaran yang di harapkan masyarakat sekitar menyadari potensi terjadi nya kebakaran dengan sistem tersebut sehingga lebih berhati-hati dalam melakukan aktifitas yang dapat menyebabkan kekabaran di lahan gambut.
Di Kelompok yang lain sebanyak 7 orang mengembangkan budidaya madu kelulut, meskipun di daerah lain budidaya madu kelulut sudah marak, tetapi bagi Pak Samrizal salah seorang pengelola madu kelulut yang mendapatkan pelatihan dari Yayasan Gambut mengakui usaha tersebut masih tergolong baru bagi mereka. Di awal pelatihan yang dilaksanakan pada 8-9 Oktober 2020, peserta dari desa Penampi mendapatkan 14 Unit Koloni Madu Kelulut, sebulan setelah mendapatkan pelatihan yang awal nya hanya 7 orang terlibat menjadi 11 orang dan koloni madu kelulut pun bertambah menjadi 30 unit.

Pelatihan Madu kelulut hingga pencarian Koloni Baru di Desa Penampi
Masyarakat Desa Penampi mampu membuktikan bahwa tanpa membakar lahan gambut usaha mereka tetap produktif bahkan terintegrasi antara budidaya pertanian dengan ternak madu kelulut, jika petani menggunakan pestisida dalam usaha mereka maka ternak madu kelulut akan terganggu, begitulah cara mereka menjaga keseimbangan antara kelestarian Gambut, Usaha Pertanian Hortikultura dan Usaha Ternak Madu Kelulut.
Penampi Village lies on Bengkalis Island in northern Riau Province, west of the district and regency capitals. Its low-lying coastal terrain ranges from 0–3 metres above sea level and faces the Bengkalis Strait. Its coordinates are 102.1752658° East and 1.4467929° North. Administratively, it forms part of Bengkalis District, Bengkalis Regency, Riau Province.
Participatory mapping by the Peatland Restoration Agency in 2019 recorded a village area of 1,057 hectares, comprising 3 hamlets: Makmur, Mekar and Penampi. Its boundaries meet Resam Village to the north, Kelebuk to the east, the Bengkalis Strait to the south, and Kuala Alam and Sungai Alam villages to the west.
The village landscape is dominated by mangroves, peatland, plantations and settlements. The original account identifies Other Use Areas (APL), the Peat Hydrological Unit (KHG) and Limited Production Forest (HPT) within its administrative context. Under Riau Regional Regulation No. 10 of 2018 on the provincial spatial plan for 2018–2038, almost the entire village is designated APL. Ministerial Decree No. SK 903/MENLHK/SETJEN/PLA.02/12/2016 identifies coastal mangrove areas as Limited Production Forest. Under Ministerial Decree No. SK. 129/MENLHK/SETJEN/PKL.0/2/2017 on the national peat hydrological unit map, Penampi lies within the Bengkalis Island KHG.
Local livelihoods depend mainly on rubber, pineapple and areca palm cultivation, alongside fishing. Fires in 2014 degraded the village’s peatland. Canals constructed along village boundaries can contribute to peat subsidence and fire vulnerability. Without alternatives, farmers may continue clearing by burning, historically practised after pineapple harvests.
In 2019, the Peatland Restoration Agency provided community capacity-building training and promoted land management without burning. Rudiyanto, one of the farmers trained by BRG, continued advocating the approach. Peat covers 854 hectares of the village and can reach depths of 12 metres in its northern part.
Recognising local farmers’ commitment, Yayasan Gambut, with funding from Global Environment Centre (GEC), worked with 4 farmers to develop cultivation without burning on peatland around residents’ homes.

Yayasan Gambut discussing land management without burning with the Penampi Village Government
Farmers began growing a range of horticultural crops around their homes. They prepared the land manually with hoes and made raised beds. Soil acidity was a key consideration: they applied dolomite before planting to raise soil pH, then fertilised according to crop needs and provided daily water.

Farming without burning in Penampi
These practices form part of local fire prevention and efforts to keep peatland economically productive without harming the surrounding environment. Farmers also manage fire danger information so that residents understand risks and take greater care with activities that could ignite peatland.
Another group of 7 residents began stingless bee honey farming. Although established elsewhere, the enterprise was new to participants such as Samrizal, who received training from Yayasan Gambut. During training on 8–9 October 2020, Penampi participants received 14 colonies. Within a month, participation grew from 7 to 11 people and the number of colonies reached 30.

Stingless bee training and searches for additional colonies in Penampi
Penampi residents are demonstrating how livelihoods can remain productive without burning peatland, including by combining horticulture with stingless beekeeping. Pesticide use on crops can harm the bees, reinforcing the need to balance peatland conservation, crop production and honey farming.
