artikel · Berita
Kolaborasi untuk Konservasi Mangrove dan Penguatan Masyarakat Pesisir Bengkalis
Kerja sama Yayasan Gambut, GEC, dan Aramco Asia Singapore dalam konservasi mangrove dan penguatan kapasitas masyarakat pesisir Bengkalis.

Setelah dua tahap rehabilitasi mangrove yang sukses di Kabupaten Bengkalis, Aramco Asia Singapore, Global Environment Centre (GEC) dan Yayasan Gambut (YG) telah mengumumkan perluasan Program Konservasi Mangrove Berbasis Masyarakat yang ambisius ke empat desa di Kabupaten Bengkalis dan Siak di Provinsi Riau, Indonesia. Pengumuman ini disampaikan dalam acara perayaan hari ini yang menandai keberhasilan penyelesaian Tahap 2 dan dimulainya Tahap 3 program tersebut. Pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, dan perwakilan dari organisasi mitra berkumpul di Desa Buruk Bakul untuk memperingati pencapaian tersebut dan membahas rencana masa depan untuk perlindungan pesisir di wilayah tersebut. Berdasarkan pencapaian signifikan sejak peluncuran program pada Oktober 2023, Tahap 3 akan dimulai pada Juni 2025 dan berlangsung selama 18 bulan dengan pendekatan komprehensif untuk memperkuat ketahanan pesisir melalui solusi berbasis alam.
Kolaborasi awal dimulai ketika 100 relawan menanam 200 pohon Bakau Minyak (Rhizophora apiculata) di kawasan mangrove yang terdegradasi di Desa Buruk Bakul. Inisiatif ini diluncurkan untuk mengatasi erosi pantai yang kritis, dengan penelitian yang menunjukkan garis pantai telah terkikis sejauh 140 meter antara tahun 1991 dan 2021 – rata-rata empat meter per tahun.
Tahap 1 (2023-2024) membangun fondasi yang kuat dengan pengembangan komunitas Sekat Bakau dan pembibitan mereka, yang menghasilkan lebih dari 10.000 bibit untuk ditanam di lahan seluas 4 hektar yang terdegradasi di Buruk Bakul. Bibit-bibit ini mencakup berbagai spesies seperti Rhizophora apiculata, Ceriops tagal, Bruguiera gymnorrhiza, dan Avicennia alba untuk meningkatkan ketahanan ekosistem. Pemecah gelombang sepanjang 100 meter dibangun menggunakan 540 batang pohon nibong untuk mengurangi energi gelombang dan mendorong sedimentasi. Program ini juga memfasilitasi pertukaran pengetahuan melalui kunjungan studi ke Malaysia, di mana anggota komunitas mempelajari teknik restorasi mangrove yang telah terbukti.

Alat Pemecah Ombak (APO) Sepanjang 200 Meter di desa Buruk Bakul
Tahap 2 (2024-2025) memperluas upaya ini secara signifikan, dengan dua pembibitan komunitas yang menghasilkan 15.300 bibit, melampaui target awal sebanyak 14.000. Hingga Mei 2025, 10.000 pohon bakau yang terdiri dari Rhizophora apiculata, Ceriops tagal, Bruguiera gymnorrhiza, dan Avicennia alba telah ditanam di Buruk Bakul, sementara 4.000 pohon Rhizophora apiculata telah ditanam di kawasan Bakau Kelapa Pati, Kabupaten Bengkalis. Anggota Sekat Bakau juga membangun pemecah gelombang sepanjang 100 meter untuk memperkuat ketahanan struktur Tahap 1, sehingga menciptakan sistem perlindungan pantai yang lebih kuat. Peningkatan kapasitas yang komprehensif melibatkan lebih dari 50 peserta dari berbagai kelompok pemangku kepentingan, dengan fasilitasi dari para ahli.
Upacara Penyelesaian Project Phase II di Desa Buruk Bakul, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis

Foto Bersama di Area Penanaman Bakau di Desa Buruk Bakul
Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 18 May 2025, Pukul 08.30 WIB, dengan peserta yang hadir adalah Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa, Tokoh Masyarakat, Anggota Kelompok Sekat Bakau, Pelajar Sekolah Dasar, Tim Aramco Asia Singapura, Tim Global Environment Centre serta Tim Yayasan Gambut. Kegiatan ini di tandai dengan penanaman bibit bakau sebanyak 200 batang bibit bakau minyak (Rhizopora apiculata) sebagai simbolis perayaan penyelesaian program konservasi mangrove tahap 2 di Desa Buruk Bakul.
Sebanyak 67 orang peserta yang hadir dalam proses penanaman antara lain :
-
Pemerintah Desa : 1 Orang
-
Pemerintah Kecamatan : 1 Orang
-
Tokoh Masyarakat : 1 Orang
-
Pelajar : 20 Siswa (3 Sekolah: 2 SD, 1 SMP)
-
Sekat Bakau : 22 Orang
-
Masyarakat : 5 Orang
-
Global Envirinment Centre: 2 Orang
-
Aramco Asia Singapore : 4 Oang
-
Yayasan Gambut : 4 Orang
-
Media : 2 Orang
Kegiatan dimulai dengan Kata Sambutan oleh Ketua Sekat Bakau, Khaidir menyampaikan bahwa dalam proses pelaksanaan program konservasi mangrove ini mendapatkan banyak pengetahuan baru dalam menghadapi tantangan untuk menjaga kawasan pesisir di desa buruk bakul. Ia juga menambahkan melalui dukungan Aramco Asia Singapore dan pendampingan Global Environment Centre serta Yayasan Gambut menjadi sebuah jalan harapan untuk terus dapat menjaga ekosistem dari degradasi lingkungan yang terjadi di Desa Buruk Bakul.

Camat Bukit Batu Acil Esyno memberikan sambutan saat kegiatan penanaman di Desa Buruk Bakul
Mulyadi selaku Direktur Yayasan Gambut juga menyampaikan bagaimana proses inisiatif di awal untuk mendukung Kelompok Sekat Bakau dengan kegiatan penanaman dan membuktikan keseriusan kelompok untuk menjaga lingkungan pesisir, upaya nyata ini menjadi hal penting untuk diprioritaskan ketika mendapatkan dukungan oleh ARAMCO Asia Singapore yang mana hingga saat ini telah tertanamnya 20.680 Bibit bakau dan Alat Pemecah Ombak sepanjang 200 Meter di Desa Buruk Bakul.
Patsy Koh, selaku Director of Public Affairs Aramco Asia Singapore memberikan apresiasi yang sangat besar kepada Kelompok Sekat Bakau atas perjalanan program hingga fase 2 (Dua) ini. Ia juga menambahkan bahwa semangat dalam menjaga lingkungan ini untuk dapat diteruskan, karena juga sangat disadari bahwa ARAMCO Asia Singapore juga memiliki keterbatasan untuk terus dapat mendukung gerakan konservasi di wilayah Desa Buruk Bakul, akan tetapi komitmen untuk peduli pada kelestarian akan terus dijaga dan dilaksanakan dimasa akan datang.
Nagarajan Rengasamy selaku Manager Forest and Coastal Proggrame Global Environment Centre menyampaikan bahwa selama masa program berjalan, GEC bersama Yayasan Gambut telah dapat melihat bagaimana program ini memberikan dampak yang nyata bagi kelompok masyarakat. Terjadinya peningkatan pengetahuan dan nilai ekonomi di kelompok merupakan sesuatu yang nyata yang telah dirasakan oleh Kelompok Sekat Bakau. Beliau juga menambahkan bahwa program ini juga turut mendukung Sustainable Developments Goals yaitu poin 1, 2, 5, 8, 13,14, 15 dan 17.
Upacara Penyelesaian Project Phase II di Desa Kelapa Pati, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis.

Foto Bersama di Area Penanaman di Desa Kelapa Pati
Kegiatan ini dilaksanakan pada 19 May 2025, dimulai pada pukul 08.30 di Gedung Sekretariat Kelompok Konservasi Mangrove Parit Seghagah Desa Kelapa Pati. Kehadiran tamu undangan disambut dengan tabuhan kompang, silat, pantun serta tarian persembahan sebagai bentuk tradisi adat istiadat masyarakat bengkalis dalam menyambut tamu, yang tetap dijalankan hingga saat ini.
Pada kegiatan ini dihadiri oleh berbagai stakeholder di Kabupaten Bengkalis dengan total peserta sebanyak 233 orang yang terdiri dari :
-
Kelompok Pengelola Hutan Kab. Bengkalis : 2 Orang
-
Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau : 3 Orang
-
Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkalis : 2 Orang
-
Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Bengkalis : 1 Orang
-
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bengkalis : 3 Orang
-
Dinas Ketahan Pangan Kabupaten Bengkalis : 2 Orang
-
Badan Perencanan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Bengkalis : 2 Orang
-
Dinas Longkungan Hidup Kabupaten : 3 Orang
-
Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik : 3 Orang
-
Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis : 3 Orang
-
Pemerintah Desa Kelapa Pati : 10 Orang
-
Akademisi Politeknik Bengkalis : 10 Orang
-
Mahasiswa Politeknik Bengkalis : 50 Orang
-
Pelajar Sekolah (SD/SMP/SMA) : 70 Orang
-
Kelompok Konservasi Mangrove Parit Seghagah : 25 Orang
-
Kelompok Tani Wanita Makmur Jaya Desa Temiang : 2 Orang
-
Kelompok Tani Hutan Desa Jangkang : 3 Orang
-
Kelompok Tani Hutan Belukap : 1 Orang
-
Kelompok Tani HUtan Teluk Nibung : 2 Orang
-
Pemerintah Kecamatan Bengkalis : 3 Orang
-
Kelompok Sanggar Silat Desa Kelapa Pati : 7 Orang
-
Kelompok Sanggar Kompang : 10 Orang
-
Kelompok Sanggar tari : 10 Orang
-
Operator : 2 Orang
-
Badan Usaha Milik Desa Kelapa Pati : 2 Orang
-
Kelompok BELATRAM Tanjung Kuras : 2 Orang
-
KTH Sepahat Hijau : 2 Orang
-
KTH Sekat Bakau : 2 Orang
-
Global Environment Centre : 2 Orang
-
Yayasan Gambut : 4 Orang
-
Aramco Asia Singapore : 2 Orang
-
Media : 2 Orang
Sambutan hangat mengawali kegiatan ini oleh Defitri Akbar, Direktur Bahtera Melayu, menyampaikan rasa terimakasihnya dengan berlangsungnya program konservasi mangrove fase 2 (dua) ini di kabupaten bengkalis khususnya di Dukung Aramco Asia Singapore, Global Environment Centre (GEC) dan Yayasan Gambut (YG) dan suatu kebanggaan Bahtera Melayu bisa ikut berkolaborasi dalam program ini dan akan dilanjutkan ke fase 3 (tiga) harapan Defitri dan disambut dengan tepukan tangan yang meriah tamu yang hadir.

Foto Bersama Multi Pihak pada Pembukaan Acara di Gedung Serba Guna Desa Kelapa Pati
Direktur Lembaga Swadaya (LSM) Bahtera Melayu Yang berdiri sejak Tahun 1992 ini, menurutnya ada hubungan yang erat antara kabupaten Bengkalis, Malaysia dan Singapura sejak zaman kerajaan dulu dalam hubungan perdangan dan kebudayaan. Keterkaitannya program saat ini kabupaten bengkalis menjadi penyedia oksigen Malysia dan Singapura, apabila kabupaten di kabupaaten bengkalis terjadi bencana kebakaran hutan dan lahan secara otomatis akan mempengaruhi kualitas udara di negara tetangga tersebut. Untuk itu program konservasi mangrove juga bagian dari usaha kita bersama mewujudkan lingkungan hijau di Negeri junjungan ini. Program konservasi mangrove merupakan investasi jangka Panjang untuk itu diharapkan pelibatan aktif genasi muda sebagai penerus program konservasi ini, ucap tegas Defitri.
Ketua kelompok Masyarakat paret segagah Rio fernandes menceritakan terbentuknya kelompok ini di mulai dari tahun 2015. Bagaimana perjuangan mengusir para pelaku penebang liar dikawasan mangrove Desa Kelapa Pati serta melakukan penanaman Kembali. Dalam setiap kegiatan penanaman mangrove selalu melibatkan pelajar dan mahasiswa serta memberikan edukasi pentingya menjaga ekosistem mangrove bagi lingkungan dan Masyarakat. Dampak ekologi dan ekonomi dari rehabilitasi mangrove saat ini sudah adanya 20 (dua puluh) Mangrove sejati dan 5 asosiasi, selain itu ekosistem mangrove semakin membaik dengan semakin banyaknya ikan, kerrang, ketam, lokan siput dan sepetang. Adapun inisiatif kelompok dalam meningkatkan sumberekonomi akan melakukan pembagunan ekowisata mangrove.
Sambutan tertulis Bupati Bengkalis yang berhalangan hadi dalam kegiatan ini, di sampaikan melalui Johansyah Syafri mengatakan, mengucapkan rasa terimakasih dan apresiasi kepada Aramco Asia Singapore, Global Environment Centre (GEC), Yayasan Gambut, dan LSM Bahtera Melayu menjadikan Kabupaten Bengkalis dan ada 4 (empat) Lokasi di jadikan program konservasi mangrove berbasis Masyarakat. Johan juga menyampaikan laju abrasi yang terjadi di Pantai pulau Bengkalis mencapai 59 hektar pertahun , sedangkan sedimentasinya hanya 16,5 hektar pertahun. Progam ini diharapkan tidak berhenti di fase 2 ( dua) dan berlanjut ke fase selanjutnya untuk mempercepat dan memperluas proses sidementasi di area Pantai pulau bengkalis.

Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Johansyah Syafri saat memberikan kata sambutan
Patsy Koh, selaku Director of Public Affairs Aramco Asia Singapore merasa terhormat dengan sambutan yang meriah dengan atraksi adat tradisi local serta dukungan dari Pemerintah Kabupaten Bengkalis. Saat ini bukan hanya merayakan penutupan dari program fase 2 namun juga bagaimana mempersiapkan fase selanjutnya sesuai dengan permintaan pemerintah kabupaten bengkalis. Program konservasi mangrove ini bukan hanya menghadapi tantantangan abrasi Pantai, namun juga memberikan pemahaman kepada Masyarakat bagaimana melestarikan lingkungan yang baik dan benar. Serta bagaimana komitmen masyarkat menjaganya agar memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan.

Director of Public Affairs Aramco Asia Singapore, Patsy Koh saat memberikan kata sambutan
Sambutan ceremony di akhiri dengan pemberian cindera mata dan bibit mangrove dari Patsy Koh, Aramco Asia Singapore dan Nagarajan Rengasamy selaku Manager Forest and Coastal Proggrame GEC kepada pemerintah kabupaten bengakalis , pemerintah Desa Kelapa Pati dan kelompok Masyarakat yang terlibat dalam program konvesasi fase 2.
Para tamu dan undangan menyempatkan diri mengunjungi dan berbelanja produk kelompok Masyarakat dampingan Yayasan Gambut. Setelah itu bersama – sama bertolak meninjau lokasi fase 2 program konservasi mangrove oleh kelompok Masyarakat Paret Segagah di Desa Kelapa Pati serta melakukan penanaman bibit mangrove secara bersama kepala Dinas Lingkungan Hidup Bengkalis, Kepala Disdagperin, Dinas Ketapang, Bapedda, Diskominfotik Bengkalis, Kepala UPT Disksnlut Provinsi Riau, Camat Bengkalis, Direktur Politeknik Negeri Bengkalis Ketua dan Sekretaris LSM Yayasan Bahtera Melayu, Sekretaris Umum DPH LAM-R Bengkalis, Kepala Desa Kelapapati, beserta puluhan pelajar dan mahasiswqa ikut serta dalam penanaman bibit mangrove ter sebut.
Following two successful phases of mangrove rehabilitation in Bengkalis Regency, Aramco Asia Singapore, Global Environment Centre (GEC) and Yayasan Gambut (YG) announced an ambitious expansion of the Community-Based Mangrove Conservation Programme to four villages in Bengkalis and Siak regencies, Riau Province, Indonesia. The announcement was made during a celebration marking the completion of Phase 2 and the launch of Phase 3. Government officials, community leaders and representatives of partner organisations gathered in Buruk Bakul Village to recognise achievements and discuss future coastal protection plans. Building on significant progress since the programme began in October 2023, Phase 3 was scheduled to start in June 2025 and run for 18 months, using a comprehensive approach to strengthen coastal resilience through nature-based solutions.
The collaboration began when 100 volunteers planted 200 Rhizophora apiculata mangrove trees in a degraded area of Buruk Bakul Village. The initiative was launched to address severe coastal erosion. Research showed that the shoreline had retreated by 140 metres between 1991 and 2021—an average of four metres per year.
Phase 1 (2023-2024) established a strong foundation by supporting the Sekat Bakau community group and its nursery, which produced more than 10,000 seedlings for planting across 4 hectares of degraded land in Buruk Bakul. Species included Rhizophora apiculata, Ceriops tagal, Bruguiera gymnorrhiza and Avicennia alba to strengthen ecosystem resilience. A 100-metre wave barrier was built using 540 nibong palm poles to reduce wave energy and encourage sedimentation. The programme also supported knowledge exchange through a study visit to Malaysia, where community members learned proven mangrove restoration techniques.

A 200-metre wave barrier (APO) in Buruk Bakul Village
Phase 2 (2024-2025) significantly expanded these efforts. Two community nurseries produced 15,300 seedlings, exceeding the initial target of 14,000. By May 2025, 10,000 mangrove trees—Rhizophora apiculata, Ceriops tagal, Bruguiera gymnorrhiza and Avicennia alba—had been planted in Buruk Bakul, while 4,000 Rhizophora apiculata trees had been planted in the Kelapa Pati mangrove area of Bengkalis Regency. Sekat Bakau members also built another 100-metre wave barrier to reinforce the Phase 1 structure, creating a stronger coastal protection system. Comprehensive capacity-building activities involved more than 50 participants from various stakeholder groups, with support from specialists.
Phase II Completion Ceremony in Buruk Bakul Village, Bukit Batu District, Bengkalis Regency

Group photograph at the mangrove planting site in Buruk Bakul Village
The event took place on 18 May 2025 at 08.30 Western Indonesia Time. Participants included district and village officials, community leaders, Sekat Bakau members, primary school students, and teams from Aramco Asia Singapore, Global Environment Centre and Yayasan Gambut. They planted 200 Rhizophora apiculata seedlings to symbolically celebrate completion of Phase 2 of the mangrove conservation programme in Buruk Bakul.
The article records 67 participants in the planting activity, including:
- Village government: 1 person;
- District government: 1 person;
- Community leaders: 1 person;
- Students: 20 students from 3 schools (2 primary schools and 1 junior secondary school);
- Sekat Bakau: 22 people;
- Community members: 5 people;
- Global Environment Centre: 2 people;
- Aramco Asia Singapore: 4 people;
- Yayasan Gambut: 4 people;
- Media: 2 people.
The event opened with remarks from Khaidir, Chair of Sekat Bakau. He explained that the mangrove conservation programme had provided new knowledge to help address the challenges of protecting Buruk Bakul’s coast. He added that support from Aramco Asia Singapore and guidance from Global Environment Centre and Yayasan Gambut offered hope for continued efforts to protect the village’s ecosystems from environmental degradation.

Bukit Batu District Head Acil Esyno addressing the planting event in Buruk Bakul Village
Mulyadi, Director of Yayasan Gambut, described the initial effort to support Sekat Bakau through planting activities, which demonstrated the group’s commitment to protecting the coastal environment. These practical efforts became a priority when support from Aramco Asia Singapore became available. By the time of the event, 20,680 mangrove seedlings had been planted and 200 metres of wave barriers installed in Buruk Bakul Village.
Patsy Koh, Director of Public Affairs at Aramco Asia Singapore, expressed strong appreciation for Sekat Bakau’s work through Phase 2. She encouraged the group to maintain its commitment to environmental protection. She acknowledged that Aramco Asia Singapore’s ability to continue supporting conservation in Buruk Bakul had limits, while affirming its continued commitment to environmental stewardship.
Nagarajan Rengasamy, Manager of GEC’s Forest and Coastal Programme, said that GEC and Yayasan Gambut had seen tangible benefits for community groups during the programme. Sekat Bakau had experienced improvements in knowledge and economic opportunities. He added that the programme also supported Sustainable Development Goals 1, 2, 5, 8, 13, 14, 15 and 17.
Phase II Completion Ceremony in Kelapa Pati Village, Bengkalis District, Bengkalis Regency

Group photograph at the planting site in Kelapa Pati Village
The event was held on 19 May 2025, beginning at 08.30 at the secretariat of the Parit Seghagah Mangrove Conservation Group in Kelapa Pati Village. Guests were welcomed with kompang drumming, silat, pantun and a traditional welcoming dance, reflecting Bengkalis customs that remain part of local hospitality.
The event brought together stakeholders from across Bengkalis Regency. The article records a total of 233 participants, including:
- Bengkalis Regency forest management group: 2 people;
- Riau Provincial Fisheries and Marine Affairs Office: 3 people;
- Bengkalis Regency Plantation Office: 2 people;
- Bengkalis Regency Cooperatives and Small and Medium Enterprises Office: 1 person;
- Bengkalis Regency Industry and Trade Office: 3 people;
- Bengkalis Regency Food Security Office: 2 people;
- Bengkalis Regency Regional Development Planning Agency: 2 people;
- Regency Environment Office: 3 people;
- Communication, Informatics and Statistics Office: 3 people;
- Bengkalis Regency Government: 3 people;
- Kelapa Pati Village Government: 10 people;
- Bengkalis Polytechnic academics: 10 people;
- Bengkalis Polytechnic students: 50 people;
- Primary and secondary school students: 70 people;
- Parit Seghagah Mangrove Conservation Group: 25 people;
- Makmur Jaya Women Farmers’ Group, Temiang Village: 2 people;
- Jangkang Village Forest Farmers’ Group: 3 people;
- Belukap Forest Farmers’ Group: 1 person;
- Teluk Nibung Forest Farmers’ Group: 2 people;
- Bengkalis District Government: 3 people;
- Kelapa Pati Village silat group: 7 people;
- Kompang group: 10 people;
- Dance group: 10 people;
- Operators: 2 people;
- Kelapa Pati Village-Owned Enterprise: 2 people;
- BELATRAM Group, Tanjung Kuras: 2 people;
- Sepahat Hijau Forest Farmers’ Group: 2 people;
- Sekat Bakau Forest Farmers’ Group: 2 people;
- Global Environment Centre: 2 people;
- Yayasan Gambut: 4 people;
- Aramco Asia Singapore: 2 people;
- Media: 2 people.
In his welcoming remarks, Defitri Akbar, Director of Bahtera Melayu, thanked Aramco Asia Singapore, Global Environment Centre (GEC) and Yayasan Gambut (YG) for supporting Phase 2 of the mangrove conservation programme in Bengkalis Regency. He said Bahtera Melayu was proud to collaborate and expressed hope that the programme would continue into Phase 3, drawing warm applause from those present.

Stakeholders at the opening ceremony in Kelapa Pati Village’s multipurpose hall
Defitri, whose organisation Bahtera Melayu was established in 1992, highlighted the close trading and cultural ties between Bengkalis, Malaysia and Singapore dating back to the era of the sultanates. He linked these relationships to the current programme, describing Bengkalis as a source of oxygen for neighbouring countries and noting that forest and land fires in the regency affect their air quality. Mangrove conservation, he said, forms part of a shared effort to maintain a greener Bengkalis. He stressed that conservation is a long-term investment and called for the active involvement of younger generations to carry the work forward.
Rio Fernandes, Chair of the Parit Seghagah community group, recounted its formation in 2015 and its efforts to stop illegal logging in Kelapa Pati’s mangroves and replant degraded areas. Planting activities consistently involve school and university students, alongside education about the importance of mangrove ecosystems for the environment and local communities. He described ecological and economic benefits from rehabilitation, including the presence of 20 true mangrove species and 5 associated species. The recovering ecosystem also supports increasing numbers of fish, shellfish, crabs, lokan clams, snails and sepetang. The group plans to develop mangrove ecotourism to strengthen local economic opportunities.
Johansyah Syafri delivered written remarks on behalf of the Bengkalis Regent, who was unable to attend. The Regent thanked Aramco Asia Singapore, Global Environment Centre, Yayasan Gambut and Bahtera Melayu for selecting 4 sites in Bengkalis Regency for community-based mangrove conservation. Johansyah said coastal erosion on Bengkalis Island affects 59 hectares annually, while sedimentation accounts for only 16.5 hectares per year. He expressed hope that the programme would continue beyond Phase 2 to accelerate and expand sedimentation along the island’s coast.

Johansyah Syafri, the Regent’s Expert Adviser for Community Affairs and Human Resources, delivering remarks
Patsy Koh, Director of Public Affairs at Aramco Asia Singapore, said she was honoured by the warm welcome, local cultural performances and support from the Bengkalis Regency Government. The event, she said, celebrated the close of Phase 2 while also looking ahead to the next phase, in line with the government’s request. Beyond addressing coastal erosion, the programme helps communities understand sound environmental conservation practices and sustain their commitment so that conservation can provide lasting economic benefits.

Patsy Koh, Director of Public Affairs at Aramco Asia Singapore, delivering remarks
The speeches concluded with the presentation of souvenirs and mangrove seedlings by Patsy Koh of Aramco Asia Singapore and Nagarajan Rengasamy, Manager of GEC’s Forest and Coastal Programme, to the Bengkalis Regency Government, Kelapa Pati Village Government and community groups involved in Phase 2.
Guests visited displays and purchased products made by community groups supported by Yayasan Gambut. They then travelled together to the Phase 2 mangrove conservation site managed by the Parit Seghagah group in Kelapa Pati Village and planted mangrove seedlings. Participants included representatives of the Bengkalis Environment Office, Industry and Trade Office, Food Security Office, Regional Development Planning Agency, Communication, Informatics and Statistics Office, the Riau Provincial Fisheries and Marine Affairs technical unit, Bengkalis District, Bengkalis State Polytechnic, Bahtera Melayu, the Bengkalis Malay Customary Institution and Kelapa Pati Village, alongside dozens of school and university students.
