Berita · Kepenghuluan Labuhan Tangga Hilir
Budidaya Seledri di Labuhan Tangga Hilir
Pengalaman petani Labuhan Tangga Hilir dalam budidaya seledri memperlihatkan pemanfaatan lahan gambut untuk tanaman hortikultura.

Misfar (34 tahun), Salah seorang petani kepenghuluan labuhan tangga hilir, Kec Bangko Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau aktif bertani sejak tahun 2017, sampai saat ini misfar aktif menanam tanaman seledri di lahan gambut tanpa bakar, berbagai riset lapangan ia lakukan hingga berhasil sampai saat ini.
Untuk mencapai keberhasilan budidaya tanaman seledri di lahan gambut, misfar telah melewati berbagai macam kegagalan dan terus belajar hingga akhirnya berhasil memanen rata – rata 450 kg seledri setiap bulan nya setelah 3 bulan tanam.

Budidaya Daun Seledri Kepenghuluan Labuhan Tanggan Hilir (Dok : Misfar)
Pemanenan seledri dilakukan seminggu sekali setelah 3 bulan tanam, sebelum tanam benih seledri di semai dulu selama 1 bulan, lahan 40 x 40 meter tersebut hanya di tanam separuhnya untuk menjaga rotasi panen, biasanya 3 bulan sebelum akhir panen lahan yang separuh nya mulai di tanami seledri baru, masa produktif tanaman seledri dari hasil pengalaman bisa mencapai 7 bulan setelah masa panen di 3 bulan pertama.
Setiap bulan sekali tanaman seledri tersebut di beri pupuk kandang sebanyak 10 Kg yang sudah di fermentasi menggunakan sekam padi dan dolomit. Saat ini pemasaran hasil panen seledri untuk mensuplai kebutuhan pasar lokal di Kota Bagan Siapi-Api, harga jual hasil panen per kg bisa kisaran Rp 25.000 s.d Rp 30.000

Hasil Panen Daun Seledri di Lahan Gambut (Dok: Misfar)
“Kendala saat ini setiap akhir tahun biasa nya tanah gambut banjir, dan beberapa tahun terakhir tanah gambut kedalam arah perusahaan PT. Diamond Raya Timber rawan kebakaran hutan dan lahan, setidaknya hampir 100 Ha lahan gambut terbakar dalam beberapa tahun terakhir” tutur misfar dalam keterangan tertulis kepada Yayasan Gambut, Sabtu, (5 Desember 2020)
Misfar, aged 34, is a farmer in Labuhan Tangga Hilir, Bangko District, Rokan Hilir Regency, Riau. Farming since 2017, he grows celery on peatland without burning and has developed his methods through field experimentation.
After setbacks and continued learning, he reached an average harvest of 450 kg of celery per month, beginning 3 months after planting.

Celery cultivation in Labuhan Tangga Hilir. Photo: Misfar
Celery is harvested weekly from 3 months after planting. Before transplanting, seeds spend 1 month in the nursery. Only half of his 40 × 40-metre plot is planted at a time to maintain harvest rotation. New celery is planted in the other half 3 months before the existing crop’s harvest ends. In his experience, plants can remain productive for up to 7 months after the initial 3-month growing period.
Each month, the crop receives 10 kg of manure fermented with rice husks and dolomite. Harvests supply the local market in Bagan Siapi-Api, with reported selling prices of Rp 25,000–Rp 30,000 per kg.

Celery harvested from peatland. Photo: Misfar
“Our current challenge is that the peatland usually floods at the end of the year. In recent years, peatland towards the PT Diamond Raya Timber area has also been vulnerable to forest and land fires, with almost 100 hectares burned,” Misfar told Yayasan Gambut in a written statement on Saturday, 5 December 2020.
