Berita · Desa Sepahat
Restorasi Gambut di Sepahat
Kegiatan restorasi di Desa Sepahat mendukung pengelolaan lahan gambut pada wilayah yang menghadapi risiko kebakaran.

Desa Sepahat merupakan desa rawan terbakar yang secara administrasi berada di Kecamatan Bandar Laksamana Kabupaten Bengkalis, berdasarkan data analisis hotspot dari satelit Terra Aqua Modis terdapat 365 titik api dari tahun 2010 – 2018 tingkat confidence di atas 70, berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Desa untuk mengantisipasi kebakaran lahan gambut di desa tersebut, salah satunya dengan membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Sepahat, semenjak tahun 2009 hingga saat ini aktif terus melakukan kegiatan patroli dan sosialisasi kepada masyarakat di Desa.
Total Drainase kanal yang terdapat di Desa Sepahat sepanjang 360 Kilometer atau setara dengan jarak perjalanan dari Pekanbaru – Padang menjadi salah satu penyebab lahan gambut rawan terbakar di daerah tersebut, di tambah lagi luas ruang kelola Desa hingga 10.000 hektar menyulitkan MPA Desa Sepahat untuk mengontrol kawasan seluas itu, berbagai pihak telah memberikan dukungan dalam upaya rewetting lahan gambut agar lahan gambut di desa tersebut tidak mudah terbakar.
Pada tahun 2012 Badan Lingkungan Hidup (BLH) Riau membangun 2 Unit Sekat Kanal, kemudian tahun 2014 2 Unit sekat kanal di bangun Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) melalui program Asean Peatland Forest Project (APFP), Tahun 2015 di lanjutkan oleh KLHK melalui dukungan dana dari United Nation Development Programme (UNDP) membangun 11 Unit Sekat Kanal, dan untuk tahun 2016 Yayasan Mitra Insani membangun 5 Unit Sekal serta 6 unit Sumur Bor dan Polsek Bukit Batu Membangun 5 Unit Sekat Kanal.

Perintisan Jalur Tanam Oleh Kelompok MPA Desa Sepahat (Dok: Arifin dan YG, 2020)
Melalui dukungan WWF Riau Yayasan Mitra Insani membangun kembali 5 unit sekat kanal di Tahun 2017, dan di tahun yang sama WWF Riau membangun 1 unit sekat kanal dan di lanjutkan di tahun 2019 membangun 2 unit sekat kanal (Samsul Komar, WWF Riau Spesialis Fire Monitoring & Restoration Sumatera Peatland)
Kemudian pada tahun 2019, WWF Riau melaksanakan pelatihan Revegetasi di Desa Sepahat, yang kemudian di dukung oleh Pemerintah Desa Sepahat dengan mengalokasi lahan seluas 35 hektar untuk di tanami berbagai jenis tanaman hutan, Samsul Komar, WWF Riau Spesialis Fire Monitoring & Restoration Sumatera Peatland menyampaikan kepada Yayasan Gambut telah melakukan penanaman pohon hutan seluas 15 Hektar di lahan gambut bekas terbakar.


Penanaman Sagu dan Tanaman Hutan di Desa Sepahat dari Yayasan Gambut (Dok: Arifin dan YG, 2020)
Setelah berdiskusi dengan WWF Riau dan Pemerintah Desa serta MPA Desa Sepahat, dari total 35 Hektar area yang di alokasikan oleh Pemerintah Desa, masih tersisa 20 Hektar yang belum dilakukan penanaman tanaman hutan, kemudian Yayasan Gambut melalui dukungan dana dari Global Environment Centre (GEC) dan International Fund For Agricultural Development (IFAD) turut berkontribusi terhadap upaya Revegetasi Desa Sepahat seluas 3 Hektar dengan melibatkan MPA Desa Sepahat menanam 1.200 Bibit Pulai dan Geronggang serta 216 Bibit Sagu, penanaman tersebut di harapkan dapat memberikan dampak positif baik dari nilai ekologis maupun ekonomi berkelanjutan tanpa merusak lahan gambut.
Sepahat Village in Bandar Laksamana District, Bengkalis Regency, is prone to fire. Analysis of Terra/Aqua MODIS satellite data identified 365 hotspots between 2010 and 2018 with confidence levels above 70. The village government has taken various preventive measures, including establishing a Community Fire Care Group (MPA), which has carried out patrols and community outreach since 2009.
The village has 360 kilometres of drainage canals—roughly the travel distance between Pekanbaru and Padang—which contribute to peatland fire risk. Its management area of up to 10,000 hectares makes monitoring difficult for the MPA. Various organisations have supported peatland rewetting to reduce vulnerability to fire.
In 2012, the Riau Environmental Agency (BLH) built 2 canal blocks. In 2014, the Ministry of Environment (KLH) built another 2 through the ASEAN Peatland Forest Project (APFP). In 2015, the Ministry of Environment and Forestry (KLHK), with United Nations Development Programme (UNDP) funding, built 11. In 2016, Yayasan Mitra Insani built 5 canal blocks and 6 boreholes, while Bukit Batu Police built 5 canal blocks.

The Sepahat MPA preparing planting lines. Photo: Arifin and YG, 2020
With WWF Riau support, Yayasan Mitra Insani built a further 5 canal blocks in 2017. WWF Riau built 1 in the same year and another 2 in 2019, according to Samsul Komar, WWF Riau’s Fire Monitoring and Restoration Specialist for Sumatra Peatlands.
In 2019, WWF Riau also provided revegetation training in Sepahat. The village government supported this by allocating 35 hectares for forest tree planting. Samsul Komar told Yayasan Gambut that 15 hectares of previously burned peatland had been planted with forest trees.


Sago and forest tree planting supported by Yayasan Gambut in Sepahat. Photo: Arifin and YG, 2020
Discussions with WWF Riau, the village government and the MPA identified 20 hectares still unplanted within the 35-hectare allocation. With funding from Global Environment Centre (GEC) and the International Fund for Agricultural Development (IFAD), Yayasan Gambut contributed to revegetation across 3 hectares. The Sepahat MPA planted 1,200 pulai and geronggang seedlings and 216 sago seedlings. The work aims to deliver ecological benefits and sustainable economic opportunities without damaging peatland.
