Pendekatan Kolaboratif dalam Pemberdayaan Masyarakat dan Konservasi Kawasan Pesisir di Kabupaten Bengkalis.

Setelah dua tahap rehabilitasi mangrove yang sukses di Kabupaten Bengkalis, Aramco Asia Singapore, Global Environment Centre (GEC) dan Yayasan Gambut (YG) telah mengumumkan perluasan Program Konservasi Mangrove Berbasis Masyarakat yang ambisius ke empat desa di Kabupaten Bengkalis dan Siak di Provinsi Riau, Indonesia. Pengumuman ini disampaikan dalam acara perayaan hari ini yang menandai keberhasilan penyelesaian Tahap 2 dan dimulainya Tahap 3 program tersebut. Pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, dan perwakilan dari organisasi mitra berkumpul di Desa Buruk Bakul untuk memperingati pencapaian tersebut dan membahas rencana masa depan untuk perlindungan pesisir di wilayah tersebut. Berdasarkan pencapaian signifikan sejak peluncuran program pada Oktober 2023, Tahap 3 akan dimulai pada Juni 2025 dan berlangsung selama 18 bulan dengan pendekatan komprehensif untuk memperkuat ketahanan pesisir melalui solusi berbasis alam.

Kolaborasi awal dimulai ketika 100 relawan menanam 200 pohon Bakau Minyak (Rhizophora apiculata) di kawasan mangrove yang terdegradasi di Desa Buruk Bakul. Inisiatif ini diluncurkan untuk mengatasi erosi pantai yang kritis, dengan penelitian yang menunjukkan garis pantai telah terkikis sejauh 140 meter antara tahun 1991 dan 2021 – rata-rata empat meter per tahun.

Tahap 1 (2023-2024) membangun fondasi yang kuat dengan pengembangan komunitas Sekat Bakau dan pembibitan mereka, yang menghasilkan lebih dari 10.000 bibit untuk ditanam di lahan seluas 4 hektar yang terdegradasi di Buruk Bakul. Bibit-bibit ini mencakup berbagai spesies seperti Rhizophora apiculata, Ceriops tagal, Bruguiera gymnorrhiza, dan Avicennia alba untuk meningkatkan ketahanan ekosistem. Pemecah gelombang sepanjang 100 meter dibangun menggunakan 540 batang pohon nibong untuk mengurangi energi gelombang dan mendorong sedimentasi. Program ini juga memfasilitasi pertukaran pengetahuan melalui kunjungan studi ke Malaysia, di mana anggota komunitas mempelajari teknik restorasi mangrove yang telah terbukti.

Alat Pemecah Ombak (APO) Sepanjang 200 Meter di desa Buruk Bakul


Tahap 2 (2024-2025) memperluas upaya ini secara signifikan, dengan dua pembibitan komunitas yang menghasilkan 15.300 bibit, melampaui target awal sebanyak 14.000. Hingga Mei 2025, 10.000 pohon bakau yang terdiri dari Rhizophora apiculata, Ceriops tagal, Bruguiera gymnorrhiza, dan Avicennia alba telah ditanam di Buruk Bakul, sementara 4.000 pohon Rhizophora apiculata telah ditanam di kawasan Bakau Kelapa Pati, Kabupaten Bengkalis. Anggota Sekat Bakau juga membangun pemecah gelombang sepanjang 100 meter untuk memperkuat ketahanan struktur Tahap 1, sehingga menciptakan sistem perlindungan pantai yang lebih kuat. Peningkatan kapasitas yang komprehensif melibatkan lebih dari 50 peserta dari berbagai kelompok pemangku kepentingan, dengan fasilitasi dari para ahli.

Upacara Penyelesaian Project Phase II di Desa Buruk Bakul, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis

Foto Bersama di Area Penanaman Bakau di Desa Buruk Bakul

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 18 May 2025, Pukul 08.30 WIB, dengan peserta yang hadir adalah Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa, Tokoh Masyarakat, Anggota Kelompok Sekat Bakau, Pelajar Sekolah Dasar, Tim Aramco Asia Singapura, Tim Global Environment Centre serta Tim Yayasan Gambut. Kegiatan ini di tandai dengan penanaman bibit bakau sebanyak 200 batang bibit bakau minyak (Rhizopora apiculata) sebagai simbolis  perayaan penyelesaian program konservasi mangrove tahap 2 di Desa Buruk Bakul.

Sebanyak 67 orang peserta yang hadir dalam proses penanaman antara lain :

  • Pemerintah Desa : 1 Orang
  • Pemerintah Kecamatan : 1 Orang
  • Tokoh Masyarakat : 1 Orang
  • Pelajar : 20 Siswa (3  Sekolah: 2 SD, 1 SMP)
  • Sekat Bakau : 22 Orang
  • Masyarakat : 5 Orang
  • Global Envirinment Centre: 2 Orang
  • Aramco Asia Singapore : 4 Oang
  • Yayasan Gambut : 4 Orang
  • Media : 2 Orang

Kegiatan dimulai dengan Kata Sambutan oleh Ketua Sekat Bakau, Khaidir menyampaikan bahwa dalam proses pelaksanaan program konservasi mangrove ini mendapatkan banyak pengetahuan baru dalam menghadapi tantangan untuk menjaga kawasan pesisir di desa buruk bakul. Ia juga menambahkan melalui dukungan Aramco Asia Singapore dan pendampingan Global Environment Centre serta Yayasan Gambut menjadi sebuah jalan harapan untuk terus dapat menjaga ekosistem dari degradasi lingkungan yang terjadi di Desa Buruk Bakul.

Camat Bukit Batu Acil Esyno memberikan sambutan saat kegiatan penanaman di Desa Buruk Bakul

Mulyadi selaku Direktur Yayasan Gambut juga menyampaikan bagaimana proses inisiatif di awal untuk mendukung Kelompok Sekat Bakau dengan kegiatan penanaman dan membuktikan keseriusan kelompok untuk menjaga lingkungan pesisir, upaya nyata ini menjadi hal penting untuk diprioritaskan ketika mendapatkan dukungan oleh ARAMCO Asia Singapore yang mana hingga saat ini telah tertanamnya 20.680 Bibit bakau dan Alat Pemecah Ombak sepanjang 200 Meter di Desa Buruk Bakul.

Patsy Koh, selaku Director of Public Affairs Aramco Asia Singapore memberikan apresiasi yang sangat besar kepada Kelompok Sekat Bakau atas perjalanan program hingga fase 2 (Dua) ini. Ia juga menambahkan bahwa semangat dalam menjaga lingkungan ini untuk dapat diteruskan, karena juga sangat disadari bahwa ARAMCO Asia Singapore juga memiliki keterbatasan untuk terus dapat mendukung gerakan konservasi di wilayah Desa Buruk Bakul, akan tetapi komitmen untuk peduli pada kelestarian akan terus dijaga dan dilaksanakan dimasa akan datang.

Nagarajan Rengasamy selaku Manager Forest and Coastal Proggrame Global Environment Centre menyampaikan bahwa selama masa program berjalan, GEC bersama Yayasan Gambut telah dapat melihat bagaimana program ini memberikan dampak yang nyata bagi kelompok masyarakat. Terjadinya peningkatan pengetahuan dan nilai ekonomi di kelompok merupakan sesuatu yang nyata yang telah dirasakan oleh Kelompok Sekat Bakau. Beliau juga menambahkan bahwa program ini juga turut mendukung Sustainable Developments Goals yaitu poin 1, 2, 5, 8, 13,14, 15 dan 17.

Upacara Penyelesaian Project Phase II di Desa Kelapa Pati, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis.

Foto Bersama di Area Penanaman di Desa Kelapa Pati

Kegiatan ini dilaksanakan pada 19 May 2025, dimulai pada pukul 08.30 di Gedung Sekretariat Kelompok Konservasi Mangrove Parit Seghagah Desa Kelapa Pati. Kehadiran tamu undangan disambut dengan tabuhan kompang, silat, pantun serta tarian persembahan sebagai bentuk tradisi adat istiadat masyarakat bengkalis dalam menyambut tamu, yang tetap dijalankan hingga saat ini.

Pada kegiatan ini dihadiri oleh berbagai stakeholder di Kabupaten Bengkalis dengan total peserta sebanyak 233 orang yang terdiri dari :

  • Kelompok Pengelola Hutan Kab. Bengkalis : 2 Orang
  • Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau : 3 Orang
  • Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkalis : 2 Orang
  • Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Bengkalis : 1 Orang
  • Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bengkalis : 3 Orang
  • Dinas Ketahan Pangan Kabupaten Bengkalis : 2 Orang
  • Badan Perencanan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Bengkalis :  2 Orang
  • Dinas Longkungan Hidup Kabupaten : 3 Orang
  • Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik :  3 Orang
  • Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis : 3 Orang
  • Pemerintah Desa Kelapa Pati : 10 Orang
  • Akademisi Politeknik Bengkalis : 10 Orang
  • Mahasiswa Politeknik Bengkalis : 50 Orang
  • Pelajar Sekolah (SD/SMP/SMA) : 70 Orang
  • Kelompok Konservasi Mangrove Parit Seghagah : 25 Orang
  • Kelompok Tani Wanita Makmur Jaya Desa Temiang : 2 Orang
  • Kelompok Tani Hutan Desa Jangkang :  3 Orang
  • Kelompok Tani Hutan Belukap : 1 Orang
  • Kelompok Tani HUtan Teluk Nibung : 2 Orang
  • Pemerintah Kecamatan Bengkalis : 3 Orang
  • Kelompok Sanggar Silat Desa Kelapa Pati : 7 Orang
  • Kelompok Sanggar Kompang : 10 Orang
  • Kelompok Sanggar tari : 10 Orang
  • Operator : 2 Orang
  • Badan Usaha Milik Desa Kelapa Pati : 2 Orang
  • Kelompok BELATRAM Tanjung Kuras : 2 Orang
  • KTH Sepahat Hijau :  2 Orang
  • KTH Sekat Bakau : 2 Orang
  • Global Environment Centre : 2 Orang
  • Yayasan Gambut : 4 Orang
  • Aramco Asia Singapore : 2 Orang
  • Media : 2 Orang

Sambutan hangat mengawali kegiatan ini oleh Defitri Akbar, Direktur Bahtera Melayu, menyampaikan rasa terimakasihnya dengan berlangsungnya program konservasi mangrove fase  2 (dua) ini di kabupaten bengkalis khususnya di Dukung Aramco Asia Singapore, Global Environment Centre (GEC) dan Yayasan Gambut (YG) dan suatu kebanggaan Bahtera Melayu bisa ikut berkolaborasi dalam program ini dan akan dilanjutkan ke fase 3 (tiga) harapan Defitri dan disambut dengan tepukan tangan yang meriah  tamu yang hadir.

Foto Bersama Multi Pihak pada Pembukaan Acara di Gedung Serba Guna Desa Kelapa Pati

Direktur Lembaga Swadaya (LSM) Bahtera Melayu Yang berdiri sejak Tahun 1992 ini, menurutnya ada hubungan yang erat antara  kabupaten Bengkalis, Malaysia dan Singapura sejak zaman kerajaan  dulu dalam hubungan perdangan dan kebudayaan. Keterkaitannya program saat ini kabupaten bengkalis menjadi penyedia oksigen  Malysia dan Singapura, apabila kabupaten di kabupaaten bengkalis terjadi bencana kebakaran hutan dan lahan secara otomatis akan mempengaruhi kualitas udara di negara tetangga tersebut. Untuk itu program konservasi mangrove juga bagian dari usaha kita bersama mewujudkan lingkungan hijau di Negeri junjungan ini. Program konservasi mangrove merupakan investasi jangka Panjang untuk itu diharapkan pelibatan aktif genasi muda sebagai penerus program konservasi ini, ucap tegas Defitri.

Ketua kelompok Masyarakat  paret segagah Rio fernandes menceritakan terbentuknya kelompok ini di mulai dari tahun 2015. Bagaimana perjuangan mengusir para pelaku penebang liar dikawasan mangrove Desa Kelapa Pati serta melakukan penanaman Kembali. Dalam setiap kegiatan penanaman mangrove selalu melibatkan pelajar dan mahasiswa serta memberikan edukasi pentingya menjaga ekosistem mangrove bagi lingkungan dan Masyarakat. Dampak ekologi dan ekonomi dari rehabilitasi mangrove saat ini sudah adanya 20 (dua puluh) Mangrove sejati dan 5 asosiasi, selain itu ekosistem mangrove semakin membaik dengan semakin banyaknya ikan, kerrang, ketam, lokan siput dan sepetang. Adapun inisiatif kelompok dalam meningkatkan sumberekonomi akan melakukan pembagunan ekowisata mangrove.

Sambutan tertulis Bupati Bengkalis yang berhalangan hadi dalam kegiatan ini, di sampaikan melalui Johansyah Syafri mengatakan, mengucapkan rasa terimakasih dan apresiasi kepada Aramco Asia Singapore, Global Environment Centre (GEC), Yayasan Gambut, dan LSM Bahtera Melayu menjadikan Kabupaten Bengkalis dan ada 4 (empat) Lokasi di jadikan program konservasi mangrove berbasis Masyarakat.  Johan juga menyampaikan laju abrasi yang terjadi di Pantai pulau Bengkalis mencapai 59 hektar pertahun , sedangkan sedimentasinya hanya 16,5 hektar pertahun. Progam ini diharapkan tidak berhenti di fase 2 ( dua) dan berlanjut ke fase selanjutnya untuk mempercepat dan memperluas proses sidementasi di area Pantai pulau bengkalis.

Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Johansyah Syafri  saat memberikan kata sambutan

Patsy Koh, selaku Director of Public Affairs Aramco Asia Singapore merasa terhormat dengan sambutan yang meriah dengan atraksi adat tradisi local serta dukungan dari Pemerintah Kabupaten Bengkalis. Saat ini bukan hanya merayakan penutupan dari program fase 2 namun juga bagaimana mempersiapkan fase selanjutnya sesuai dengan permintaan pemerintah kabupaten bengkalis. Program konservasi mangrove ini bukan hanya menghadapi tantantangan abrasi Pantai, namun juga memberikan pemahaman kepada Masyarakat bagaimana melestarikan lingkungan yang baik dan benar. Serta bagaimana komitmen masyarkat menjaganya agar memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan.

Director of Public Affairs Aramco Asia Singapore, Patsy Koh saat memberikan kata sambutan

 Sambutan ceremony di akhiri dengan pemberian cindera mata dan bibit mangrove dari Patsy Koh, Aramco Asia Singapore dan Nagarajan Rengasamy selaku Manager Forest and Coastal Proggrame GEC kepada  pemerintah kabupaten bengakalis , pemerintah Desa Kelapa Pati dan kelompok Masyarakat yang terlibat dalam program konvesasi fase 2.

Para tamu dan undangan menyempatkan diri mengunjungi dan berbelanja produk kelompok Masyarakat dampingan Yayasan Gambut. Setelah itu  bersama – sama bertolak meninjau lokasi  fase 2 program konservasi mangrove oleh kelompok Masyarakat Paret Segagah  di Desa Kelapa Pati  serta melakukan penanaman bibit  mangrove secara bersama  kepala Dinas Lingkungan Hidup Bengkalis, Kepala Disdagperin, Dinas Ketapang, Bapedda, Diskominfotik Bengkalis, Kepala UPT Disksnlut Provinsi Riau, Camat Bengkalis, Direktur Politeknik Negeri Bengkalis Ketua dan Sekretaris LSM Yayasan Bahtera Melayu, Sekretaris Umum DPH LAM-R Bengkalis, Kepala Desa Kelapapati, beserta puluhan pelajar dan mahasiswqa ikut serta dalam penanaman bibit mangrove ter sebut.