Melirik Potensi Pengembangan Talas Beneng di Kabupaten Rokan Hilir

Talas Beneng yang merupakan singkatan dari besar dan koneng yang berarti berukuran besar dan berwarna kuning merupakan talas yang banyak di budidayakan di Provinsi Banten, talas tersebut biasa dijadikan tepung tapioka yang saat ini di ekspor ke sejumlah negara seperti Australia, Malaysia, New Zealand, Korea Selatan, India, Turkey dan Jepang.

Talas Beneng di panen setelah berumur 2 tahun dengan produksi umbi sekitar 40-45 Kg, talas ini memiliki kadar protein, mineral dan serta pangan yang tinggi, dimana di daerah asalnya tepung talas tersebut sudah di formulasikan menjadi produk olahan brownies, Bakpao dan Kue Kering.

Talas Beneng (Dok: Rusli, 2020)

Jika kita menanam seluas 1 hektar di butuhkan bibit talas bening sebanyak 10.000 batang, dan biasanya setelah berumur 4 bulan daun basah yang sudah tua bisa di panen sebanyak 1 kg perbulan nya, kemudian umbi talas tersebut juga bisa di panen setelah berumur 9 bulan keatas.

Nilai Ekonomis Talas Beneng

Daun Talas Beneng
Daun Talas Beneng saat ini di ekspor ke berbagai negara diantaranya Australia 200 Ton/Bulan, Malaysia 40 Ton/Bulan dan New Zealand 100 Ton/Bulan, untuk 1 Hektar Estimasi hasil panen daun Talas Beneng 5 Ton/Ha dengan harga jual Rp 1.000/kg, estimasi pendapatan petani bisa mencapai 5 Juta/bulan hanya dari daun saja, produksi daun akan meningkat saat umur umbi talas di atas 8 bulan dan bisa mencapai 10 ton per hektar, artinya estimasi pendapatan petani bisa mencapai 10 juta perbulan hanya dari daun talas.

Umbi Talas Beneng
Perkiraan umbi yang berumur 1 tahun bobot nya bisa mencapai 10 – 15 kg/batang, estimasi total produksi 1 ha umbi talas bisa mencapai 100 Ton dengan harga jual Rp 1.000/kg nya, jika di kalkulasi bisa mencapai 100 Juta per tahun dari panen umbi nya, namun jika petani bisa bersabar potensi umbi bisa lebih besar saat di panen berumur 2 tahun dengan estimasi produksi 400 ton sehingga potensi pendapatan petani bisa mencapai 400 juta/hektar

“Budidaya Talas Beneng di rekomendasikan tidak menggunakan pupuk kimia dalam perawatan nya, untuk kebutuhan pupuk organik kandang perhektarnya di awal tanam sebanyak 5 ton dan kapur dolomit 1 ton, begitu juga di tahun ke 2 jika petani berniat memanen umbi pada umur 2 tahun” tutur Rusli yang menjabat sebagai Bupati LIRA di Kabupaten Rokan Hilir kepada Yayasan Gambut dalam keterangan tertulis.

Survey Rencana Lokasi Tanam Talas Beneng di Kepenghuluan Labuhan Tangga Besar (Dok: Rusli, 2020)

Sambungnya untuk pemasaran hasil panen Talas Beneng, LIRA Rohil telah menjalin koordinasi dengan Asosiasi Pelaku Usaha Talas Beneng (ASPUTABEN) Provinsi Riau, dan saat ini kami juga sudah menjalankan serangkaian diskusi dengan petani dan akan mengembangkan 50 Hektar lahan percontohan di Kepenghuluan Labuhan Tangga Besar, Kec. Bangko, Kab. Rokan Hilir, peluang pasar masih terbuka lebar, sehingga terbuka peluang para pihak untuk saling bekerja sama dalam upaya meningkatkan perekonomian masyarakat.

Default image
YayasanGambut (YG)
Mendukung pengelolaan sumber daya alam lahan basah dan ekosistem yang berkelanjutan melalui kemitraan strategis dengan berbagai stakeholder dan masyarakat lokal.
Leave a Reply